oleh

Di Balik Fenomena “Bayernliga” di Bundesliga Jerman

-Artikel-557 Dilihat

Di Balik Fenomena “Bayernliga” di Bundesliga Jerman

Bicara soal Bundesliga Jerman, kebanyakan pecinta sepak bola akan langsung mengasosiasikan dengan dominasi Bayern Munich. Maklum, tim Bavaria ini bagai melaju tanpa lawan.

Dalam sedekade terakhir saja, FC Hollywood rutin juara liga. Saking dominannya, sampai muncul anekdot “Bayernliga”, karena kentalnya dominasi mereka.

Karena dominan di dalam negeri, Die Roten konsisten menjadi “wajah” klub Jerman di Eropa. Terbukti, dalam sedekade terakhir, mereka kerap melaju jauh, bahkan meraih dua gelar Liga Champions.

Tapi, di balik dominasi Bayern Munich di Bundesliga Jerman, ada dua hal, yang jadi kunci. Pertama, kebiasaan mereka mencomot bintang dari klub rival, dan kedua, pola pikir “money oriented” klub Bundesliga, khususnya belakangan ini.

Untuk masalah pertama, kebiasaan “menggembosi” klub rival sudah terjadi sejak lama. Setiap kali ada klub rival yang juara Bundesliga, pemain kunci atau pelatih klub itu akan diboyong ke Allianz Arena, kalau bisa sesegera mungkin setelah mereka juara.

Baca Juga : Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Untuk sosok pelatih,

ada Ottmar Hitzfeld, yang diboyong dari Borussia Dortmund, tak lama setelah mereka juara Liga Champions dan Bundesliga di era 1990-an. Untuk pemain dari klub yang sama, ada Mario Gotze, Robert Lewandowski, dan Mats Hummels yang didatangkan di dekade silam.

Selain Dortmund, klub lain yang juga digembosi setelah juara liga antara lain Werder Bremen, yang antara lain kehilangan Miroslav Klose dan Torsten Frings plus Stuttgart yang kehilangan Mario Gomez. Keduanya terjadi di era 2000-an.

Belakangan, strategi ini bergeser ke klub rival terdekat di klasemen, dengan RB Leipzig sebagai korban terbaru. Tim yang musim lalu menjadi runner-up Bundesliga ini harus rela kehilangan Dayot Upamecano dan Marcel Sabitzer, plus pelatih Julian Nagelsmann, yang dibajak Bayern Munich musim panas lalu.

Boleh dibilang, dengan cara ini, Bayern sukses melemahkan lawan, bahkan sebelum mereka bisa menjadi lawan sepadan di liga.

Karena sudah jadi satu kebiasaan, tentu saja ini menjadikan Bundesliga terlihat membosankan. Dari sinilah muncul anekdot lain di Bundesliga Jerman, yakni “semua akan Bayern pada waktunya”.

Pola ini

belakangan sempat ditiru PSG di Ligue 1 Prancis, kala mereka menggaet Kylian Mbappe dari AS Monaco. Momen ini terjadi, tak lama setelah klub masa muda Thierry Henry itu juara Ligue 1 dan lolos ke semifinal Liga Champions musim 2016/2017.

Tapi, faktor kedua menjadi satu hal unik. Penyebabnya, selain karena ikut berhubungan dengan faktor pertama, pola pikir “money oriented” juga mewakili satu pergeseran tren di klub-klub Bundesliga Jerman.

Seperti diketahui, meski terkesan membosankan, Bundesliga punya klub-klub dengan akademi pemain muda cukup bagus. Makanya, selalu saja ada pemain muda berbakat yang muncul di sini, karena akademi mereka diberdayakan dengan baik.

Tapi, tren itu belakangan mulai bergeser, khususnya sejak suksesnya strategi transfer ala RB Leipzig. Seperti diketahui, sejak kemunculannya di kasta tertinggi, mereka cukup rutin menjual mahal pemain muda yang mereka orbitkan.

Baca Juga : Pembagian BLT Di Kantor Desa Tapus

Selain Upamecano

dan Sabitzer, ada Ibrahima Konate dan Naby Keita yang diboyong Liverpool dan Timo Werner yang dibeli mahal oleh Chelsea. Kebiasaan ini sejalan dengan konsep “beli murah jual mahal” yang memang menjadi rumus transfer andalan Si Banteng Merah.

Alhasil, klub yang tadinya lebih banyak mengandalkan akademi pemain muda sebagai “komoditas ekspor”, kini mulai mengoptimalkan kemampuan pencari bakat. Hasilnya, muncul pemain-pemain muda yang direkrut dengan harga murah, tapi dapat dipoles kemampuannya, sehingga mampu berkembang dan dijual mahal.

Belakangan, strategi transfer ini juga ditiru Borussia Dortmund, saat mereka menjual mahal Christian Pulisic ke Chelsea, dan Jadon Sancho ke Manchester United. Daftar ini hampir dipastikan masih akan bertambah, karena mereka punya Erling Haaland dan Jude Bellingham, yang sudah dilirik klub raksasa Eropa.

Selain RB Leipzig dan Dortmund, klub-klub lain yang juga diketahui melakukan pendekatan serupa antara lain Hoffenheim dan Bayer Leverkusen.

Baca Juga : Itik Alabio, Tugu Istemewa Di Kota Amuntai 

Hoffenheim mengeruk cuan

setelah menjual Roberto Firmino ke Liverpool dengan ongkos 41 juta euro, tahun 2015 silam. Sebelumnya, Hoffe hanya mengeluarkan ongkos 4 juta euro saat mendatangkannya dari Figueirense, klub liga Brasil.

Kasus unik muncul pada kebijakan transfer Bayer Leverkusen. Klub milik perusahaan farmasi Bayer itu tak hanya mengandalkan strategi “beli murah jual mahal”, tapi juga memberdayakan pemain didikan akademi klub.

Hasilnya, dari akademi mereka, muncul nama Kai Havertz, yang dijual ke Chelsea dengan harga transfer 80 juta euro. Angka ini masih menjadi rekor penjualan termahal klub.

Sementara itu, pemain-pemain hasil polesan Die Werkself yang dijual mahal antara lain Son Heung Min, Hakan Calhanoglu, dan Julian Brandt. Mereka mampu mendatangkan profit cukup besar, di saat performa klub cenderung naik turun, bahkan kadang absen tampil di kompetisi antarklub Eropa.

Secara strategi, kebijakan dan pergeseran tren di klub-klub Bundesliga Jerman ini mirip dengan yang sudah lebih dulu terjadi di Eredivisie Belanda, Ligue 1 Prancis, dan Primeira Liga Portugal.

Klub dari ketiga liga ini kerap menghadirkan pemain bintang, baik dari akademi maupun hasil transfer, sebelum akhirnya dijual lagi dengan harga mahal.

Baca Juga : Belajar Sejarah Candi Agung Amuntai 

Dari sinilah klub

mendapat profit, dan liga ini muncul sebagai “batu loncatan” pemain muda menuju liga top Eropa. Salah satu klub yang belakangan menjadi sorotan adalah Benfica, dengan Darwin Nunez (Uruguay) sebagai properti panas terkini.

Sebelumnya, klub raksasa Portugal itu sukses mengorbitkan dan menjual mahal Joao Felix ke Atletico Madrid seharga lebih dari 100 juta euro.

Di satu sisi, pergeseran tren ini cukup menguntungkan secara finansial. Apalagi dalam kondisi pemulihan setelah limbung akibat imbas pandemi. Dari transfer pemain, ada kesempatan untuk memperbaiki, bahkan memulihkan kondisi keuangan klub.

Tapi, di sisi lain, ini akan mengurangi daya kompetitif liga di dalam negeri, karena klub dibuat terjebak dalam fase “membangun tim” tapi bangunan itu seperti dikondisikan untuk tak pernah jadi.

Jika dalam liga tersebut ada tim dominan, tim tersebut akan leluasa mendominasi, tanpa ada ganjalan berarti. Tapi, beban mental klub dominan itu akan jadi berat di Eropa, karena mereka jadi gacoan utama liga. Sekali tumbang, selesai sudah.

Di Bundesliga, kita melihatnya pada Bayern Munich, seperti halnya PSG di Prancis. Sementara itu, Eredivisie Belanda dan Primeira Liga Portugal masih sedikit lebih variatif, karena punya tiga klub dominan.

Baca juga : Dokumentasi Kegiatan Vaksinasi Covid-19

Belanda punya “De Grote Drie”

alias “The Big Three” dalam trio Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven dan Feyenoord Rotterdam. Sementara itu, Portugal punya FC Porto, Benfica dan Sporting Lisbon.

Mereka hadir sebagai kekuatan dominan di dalam negeri, dan jarang sekali bisa diganggu. Kalaupun ada tim diluar ketiganya, yang bisa membuat kejutan, biasanya tim itu akan digembosi, entah oleh klub raksasa domestik, atau klub top luar negeri.

Tentu saja, ini menjadi satu konsekuensi tak terhindarkan. Bagaimanapun, klub juga butuh pemasukan untuk bisa bertahan hidup, sementara pemain dan pelatih tentu ingin memanfaatkan kesempatan langka: bisa “naik kelas” secara drastis dalam karir.

Fenomena ini memang agak miris, karena terkesan melanggengkan ketimpangan dan hegemoni tim kuat. Tapi, inilah sisi lain industrialisasi sepak bola, yang kadang memaksa klub harus melakukan keputusan kurang populer, demi tetap sehat, baik secara harmoni dalam tim maupun finansial.

Mungkin, inilah alasan, mengapa kedatangan taipan kaya di sebuah klub bisa disambut meriah belakangan ini. Karena dari sokongan merekalah, harapan agar siklus “lingkaran setan” ini bisa diputus bisa jadi kenyataan.

#ytwargabenua

#wargabenua

#lkpanugerah

#dostingwargabenua

Sumber : Kompasiana

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar